PRAKTIK MENJADI PENGAMBIL KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
A. Peristiwa (Fact)
Tujuan pendidikan adalah menuntun siswa sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman untuk menuju kebahagiaan yang setinggi tingginya. Dalam proses menuntun, tentunya guru akan dihadapkan pada kondisi permasalahan yang di alami oleh peserta didik. dalam menghadapi permasalah tersebut, seorang guru harus mampu membuat suatu keputusan yang tepat. Keputusan yang di pilih merupakan keputusan yang paling banyak mengandung nilai-nilai kebaikan.
Dalam situasi yang dihadapi oleh guru, terdapat kejadian yang mengandung dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.
Salah satu kejadian yang pernah saya hadapi adalah pada kondisi dimana salah satu siswa saya yang 4 hari berturut-turut tidak hadir di sekolah. Siswa tersebut tidak memberi informasi kepada temannya, alasan dia tidak masuk sekolah. Setelah kemudian siswa tersebut masuk sekolah, saya kemudian memanggil siswa tersebut untuk menanyakan penyebab siswa tersebut tidak masuk sekolah. namun karena takut siswa tersebut kemudian di dampingi oleh ketua kelas untuk menghadap ke saya. pada kesempatan tersebut, saya kemudian menanyakan alasan dia, mengapa tidak masuk ke sekolah. siswa tersebut kemudian menjelaskan bahwa alasan dia tidak masuk karena harus mencari uang untuk kebutuhan sekolah. Pada posisi ini saya kemudian menyadari bahwa saya sedang menghadapi kondisi dilema etika. Disatu sisi, jika mengacu pada aturan maka harus ada tindakan lanjutan yaitu pemanggilan orang tua ke sekolah. Namun disisi yang lain, siswa tersebut tidak ingin orang tuanya dipanggil karena takut. hal tersebut karena tindakannya meninggalkan sekolah untuk mencari uang tidak diketahui orang tuanya.
Alasan
Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan dari kondisi dilema etika yang di hadapi, sudah seyogyanya penerapan langkah pengambilan dan pengujian keputusan di lakukan.
Hasil Aksi Nyata
Hasil aksi nyata, siswa tersebut hanya diberikan pemahaman terkait tanggung jawab sebagai siswa dan di peringati untuk tidak mengulangi perbuatannya.
B. Perasaan (Feelings)
Saat melakukan aksi nyata saya sempat merasa khawatir dengan keputusan yang saya akan ambil, tetapi setelah berdiskusi dengan rekan sejawat, saya akhirnya merasa lega karena telah menentukan keputusan yang tepat.
C. Pembelajaran (Findings)
Permasalahan pada setiap siswa itu berbeda-beda, sehingga perlu adanya pemahaman dalam masalah yang dialami sehingga pengambilan keputusan yang akan kita lakukan dapat berdampak positif. Dalam mengahadapi sebuah dilema etika atau bujukan moral Perlu adanya kolaborasi dan kerjasama pada semua pihak dalam menghadapi dilema, sehingga kita sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan akan mempertimbangkan hal-hal positif dan negatif yang berdampak pada perkembangan sekolah maupun siswa khususnya dalam pembelajaran.
D. Penerapan ke Depan (Future)
Saya akan selalu menerapkan kolaborasi, kerjasama dan langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada warga sekolah untuk menentuan sebuah pengambilan keputusan yang tepat dan berdampak positif.
Demikian portofolio aksi nyata modul 3.1.a.10 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran yang telah CGP susun. Harapan saya dengan langkah-langkah pengambilan keputusan yang saya laksanakan dapat menjadi acuan dalam mengahadapi dilema etika dan bujukan moral yang terjadi di sekolah.
Penulis : Anita Sri Wahyuni



0 Comments